Sunday, May 19, 2013

Turning Nineteen #4: The Infernal Devices by Cassandra Clare


Cassandra Clare, penulis serial The Mortal Instruments dan The Infernal Devices,  mengakhiri cerita Tessa Grey-William Herondale-James Carstairs dalam cerita The Infernal Devices. Buku ketiganya, Clockwork Princess, dirilis 19 Maret kemarin di Amerika--aku nggak tahu kapan terbitnya di Indonesia, karena aku beli di The Book Depository.

Kalau sudah baca The Mortal Instruments, pasti seenggaknya kenal The Infernal Devices. Bisa dibilang, dari segi timeline, TID merupakan prekuel TMI, dengan setingan di kota London di era Victorian England. Cassandra cuma bikin tiga buku dalam TID, yaitu Clockwork Angel, Clockwork Prince, dan Clockwork Princess. Ini lebih pendek dan lebih cepet habis daripada TMI, yang buku keenamnya masih dalam proses. Padahal nih, tiga buku pertama TMI termasuk favoritku lho. Sayangnya, menginjak buku keempat, aku mulai kehilangan selera dan aku malah nggak baca buku kelima.


TID membawa kita ke dunia para Shadowhunter, keturunan orang-orang berdarah Malaikat yang bertugas membasmi makhluk-makhluk Dunia Bawah, terutama iblis. Shadowhunter sendiri itu sekelompok orang-orang yang menggunakan kekuatan surgawi seperti rune dan pedang seraph (pedang yang dinamai sama nama Malaikat) untuk melakukan tugasnya. Sementara makhluk Dunia Bawah itu termasuk werewolf, warlock (keturunan Iblis), iblis-iblis itu sendiri, dan vampir. Setingannya, berbeda dengan TMI yang ceritanya di New York tahun 2007, TID dilatarbelakangin sama era Victorian England, tahun 1880-an.



Nah, di TID, ceritanya Tessa Gray pergi ke London untuk nyari kakaknya, Nate. Tapi, bukannya Nate, di London Tessa malah diculik The Black Sister yang berniat membawa Tessa pada Mortmain atau sang Magister. Tessa nggak tahu apa yang diinginkan Mortmain darinya, tapi Tessa sendiri punya kemampuan berubah wujud. Tessa bisa memegang sebuah obyek, milik siapa saja, dan tubuhnya akan berubah seperti pemilik obyek itu dan bisa menarik memori dari orang itu melalui bendanya. Di rumah The Black Sister, Tessa diselamatkan oleh Will Herondale, dan dibawa ke Institut London. Di Institut London, ketemulah Tessa sama Jem Carstairs, pasangan parabatai Will, yang sakit dan bergantung pada bubuk yinfeng untuk terus sehat. Selain itu, Tessa juga berkenalan sama Charlotte dan Henri Branwell, pemimpin Institut London, Sophie Collins yang jadi maid-nya Tessa, dan juga ada keluarga Lightwood di seri ini.


Awalnya, Tessa dibantu para Shadowhunter berusaha mencari kakak Tessa, Nate, sekaligus berlindung dari Mortmain. Mortmain berencana melepaskan pasukan automaton untuk menghancurkan para Shadowhunter dan Mortmain membutuhkan Tessa untuk membantunya. Tessa membantu para Shadowhunter untuk mencegah Mortmain, dan dia juga akhirnya tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Tessa bekerjasama dengan vampir, werewolf, dan warlock Magnus Bane untuk menghentikan Mortmain sebelum Mortmain menguasai dunia dengan pasukan automatonnya. Selain itu, Tessa dan para Shadowhunter juga berusaha untuk mencari obat untuk menyembuhkan Jem yang makin lama keadaannya makin parah.


Namanya juga YA, pasti nggak seru kalau nggak ada sisi romantisnya kan?? Nah, di buku ini, twist sisi romantisnya kalo menurutku itu menyakitkan hati. Tessa sama-sama mencintai Will dan Jem, sementara Jem dan Will juga mencintai Tessa, tapi nggak ada yang tahu perasaan yang satunya. Jem bersikap paling simpatik sama Tessa, ngajakin dia jalan-jalan keliling London, dan pada akhirnya melamar Tessa. Sementara Will bersikap berjarak dan bisa dibilang galak, tapi dia mencintai Tessa, dan nggak mau melukai Jem. Tessa, meskipun dia terikat sama Jem, masih sering memikirkan Will dan akhirnya merasa bersalah. Selain Will-Jem-Tessa, ada juga cerita sampingan Gideon Lightwood-Sophie, dan Gabriel Lightwood-Cecily Herondale (adik Will).


Tessa Gray itu orangnya softie. Yah, maklum, dia cewek yang dibesarkan dengan didikan ala abad ke-19, dimana dia bersikap seperti seorang lady dan nggak bisa self-defense. Dia juga gampang galau dan kalut. Dari segi suka apa nggak sama Tessa, aku sendiri nggak terlalu menyukai Tessa (mungkin karena tipeku itu cewek-cewek badass yang tangguh kali ya?). Tapi dia jujur dan agak naif, dan juga sebenarnya manis banget. Orang tua Tessa sudah meninggal, jadi ketika Tessa nyadar kalau seenggaknya salah satu orangtuanya adalah iblis, Tessa jadi bingung.


Jem Carstairs tipe cowok lembut hati. Dia loyal banget ke Will, dan sayang sama pasangan parabatainya itu. Di buku terakhir, ketika Jem tahu Will juga mencintai Tessa, Jem bilang ke Will kalau aja dia tahu perasaan Will, Jem nggak bakalan melamar Tessa. Jem besar di Shanghai karena orangtuanya dulu kepala Institut Shanghai, dan kecanduannya pada yinfeng itu dimulai setelah kedua orangtuanya dibantai oleh iblis. Dari segi fisik, Jem berambut keperakan dan bertubuh agak kurus, akibat mengonsumsi yinfeng terus menerus.


Will Herondale justru kebalikannya Jem. Banyak yang bilang Will orangnya nggak sopan, witty, snarky, dan seterusnya. Will juga sayang dan perhatian sama Jem, ngebantu nyariin obat buat Jem, dan ketika tahu Jem melamar Tessa, Will memilih diam daripada menyakiti sahabatnya itu. Dia juga orangnya sensitif dan perasa, juga puitis. Hobinya baca buku, mirip sama Tessa. Will berasal dari Wales, berambut hitam dan bermata biru. Will lari dari keluarganya dan datang ke London, dan kebiasaan menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya di balik mulutnya yang tajam, selera humornya yang aneh, dan sikapnya yang nggak sopan.


Nephilim ala Cassandra Clare beda lho sama Nephilim 'tradisional' yang biasanya merupakan anak-anak malaikat. Nephilim disini adalah keturuan orang-orang yang dulu mendapatkan darah Malaikat Raziel dan ditugaskan untuk membantai iblis. Cassandra menciptakan ras supernatural baru yang unik dan keren banget, dan cerita romantisnya juga selalu asyik buat dibaca. Bahasa Inggris yang dipake di sini, meskipun agak kaku karena disesuaikan dengan gaya bahasa ala abad 19, tapi tetap enak dibaca kok. Selain itu, Cassandra selalu bikin disclaimer kalau setingannya dibuat seotentik mungkin dengan kondisi London di abad 19, meskipun agak disesuaikan.


TID termasuk salah satu serial YA paling asyik yang kubaca. Aku suka semua aspeknya, mulai dari karakternya, setingan tempatnya, kemudian juga konfliknya. Memang sih, waktu baca buku terakhirnya aku agak heran dan ngerasa kurang puas, tapi ya sudahlah. Keseluruhan bagus kok. Buat yang suka serial YA paranormal/supernatural, buku ini aku rekomendasiin. Malah kalau udah baca TMI dan suka sama serialnya, rugi kalo nggak baca TID.

Nah, Cassandra juga sempat mengisukan bakalan ngeluarin serial baru setelah TMI buku keenam selesai, yang dijudulin The Dark Artifices. Detailnya nyaris nggak ada sih, kecuali TDA bakalan menceritakan tentang para Shadowhunter juga. Sayangnya, TID nggak dijadikan film, padahal keliatannya seru kalau TID juga difilmkan seperti TMI. Akunya sih lebih suka TID dibandingkan TMI.

Para fans TID sering banget bikin fan art, dan biasanya dikumpulin di Tumblr Cassandra Clare. Kalo mau liat-liat, silakan kunjungin Tumblr-nya yaa. Atau, kalau mau nyari info soal TID dan TMI, bisa ngunjungin situs Cassandra Clare.

Source







Source








Saturday, May 11, 2013

Review: Glory in Death (In Death #2)

Source

Judul : Glory in Death (In Death #2)
Author : J. D. Robb
ISBN : 1101221038 (ISBN13: 9781101221037)
Edisi : English Ebook (Pertama Diterbitkan Desember 1995) by
Genre : Adult, Romantic Suspense, Science Fiction, Thriller, Mystery

Glory in Death:   
The first victim was found lying on a sidewalk in the rain. The second was murdered in her own apartment building. Police Lieutenant Eve Dallas had no problem finding connections between the two crimes. Both victims were beautiful and highly successful women. Their glamorous lives and loves were the talk of the city. And their intimate relations with men of great power and wealth provided Eve with a long list of suspects--including her own lover, Roarke. As a woman, Eve was compelled to trust the man who shared her bed. But as a cop, it was her job to follow every lead...to explore every secret passion, no matter how dark. Or how dangerous.

“We're standing here, beat to shit, walking away from a crime scene where either or both of us could have bought it, and you're asking me to marry you?"
"Perfect timing.”

Eve Dallas dan Roarke akhirnya pacaran--secara resmi. Eve Dallas, polisi Homicide yang tomboi dan nggak peduli sama fashion ini belum mau bilang cinta sama Roarke. Mungkin karena setengahnya ragu kali ya, ragu kalau Roarke serius sama dia. Roarke sendiri lama-lama kesel karena Eve terus menerus berusaha menghindar dan menolak tinggal di rumah Roarke kalau Roarke pergi ke luar New York untuk ngurus bisnisnya.

Kasus Eve yang terbaru adalah mengenai pembunuhan Cecily Towers, seorang PA (Prosecuting Attorney--Jaksa Penuntut? Hehe, nggak tau ah XD), yang tewas dengan leher teriris. Dan kemudian, Yvonne Metcalf, seorang artis, juga terbunuh dengan cara yang sama. Satu-satunya hubungan antara kedua orang ini, bisa ditebak, adalah Roarke. Eve galau lah jadinya, soalnya dia harus membersihkan nama Roarke. Ditambah dengan Roarke yang akhirnya ga tahan sama tingkah Eve (belum mau ngaku dia cinta sama Roarke), akhirnya mereka putus deh. Jadi selain harus memecahkan kasus dua wanita yang terbunuh itu, Eve harus berusaha 'memecahkan' masalah pribadinya dengan Roarke.

Ikut sakit hati lho bacanya. Soalnya Roarke dan Eve itu, meskipun bertolak belakang, cocok. Tapi Eve terlalu terbiasa sendirian, jadi dia nggak tahu gimana mengatasi perasaannya pada Roarke. Roarke, yang dari awal sudah mengakui cintanya pada Eve, emang berhak sebel sama Eve, tapi yaah, kok putus siih? T-T

Aku emang baru baca Chasing Fire dari sisi Nora Roberts, tapi aku suka sama gaya penceritaan J. D. Robb. Terutama karena dia bikin karakter yang terkesan sempurna, tapi sebenarnya nggak too good to be true dan jadinya kelihatan lebih 'manusiawi'. Misalnya, Eve yang dia bikin itu begitu lengkap. Cantik, tapi nggak sadar kalau dia itu cantik, dan seksi dengan caranya sendiri. Sarkastik dan sinis, tapi rasa empatinya membuat Eve bisa menjadi polisi yang baik. Eve cenderung sering bekerja berlebihan dan memforsir dirinya sendiri kalau menghadapi kasus. Lalu Roarke, yang dari luar sesempurna malaikat, tapi dia juga bisa sakit hati, bisa merana ketika dia dan Eve harus putus, dan rasa sentimentilnya tinggi (maklum, orang Irlandia).

Katanya Tante Roberts itu suka banget bikin karakter cowok orang Irlandia. Aku pribadi juga suka banget sama orang-orang Irlandia, atau orang Wales, atau orang British *yummm* Eh, OOT banget. BTW, di buku kedua ini, aku merasa cukup puas, makin lama aku makin jatuh cinta sama Roarke dan Eve. Selain itu, Tante Roberts membuat tokoh-tokoh 'sampingan' yang juga sama pentingnya dengan tokoh utama, dan cerita tokoh sampingan itu juga makin berkembang bersama dengan ceritanya. Oh ya, di sini Eve pertama kali ketemu Officer Delia Peabody, yang di buku selanjutnya bakalan jadi aide Eve dan juga temannya. Settingannya, tahun 2060 di New York, ketika manusia semakin bergantung dengan teknologi dan teknologi juga semakin maju, membuat seri In Death terasa seperti bacaan yang tak kenal waktu, karena kapanpun kita bacanya, kita nggak perlu merasa seperti baca buku jadul. Yah, bayangin aja, ini buku terbit di pertengahan 1990-an, tapi Tante Roberts bisa memprediksi kemajuan teknologi yang, omong-omong, sekarang mulai jadi kenyataan. Contohnya alat komunikasi yang pake teknologi 3G, touchscreen, mobil yang bisa 'terbang', voice-command control, dsb. Jadi penasaran nih, jangan-jangan para ahli teknologi sekarang terinspirasi novel-novel Tante Roberts ya?

Momen Favorit :

Di buku ini, momen favoritku ada dua. Satu saat Eve akhirnya mendatangi Roarke tengah malam, di rumahnya, dan menuntut agar Roarke menjelaskan soal hubungannya dengan dua korban. Dua saat Eve dan Roarke liburan sehari ke Meksiko, dan mereka--ehem--bercinta di kolam renang. Roarke malu ketika menyadari 'aksi' mereka terekam kamera. Sampai Eve sendiri nggak percaya sama apa yang dilihatnya.

"She started to speak again, then got a good look at his face. The devil took over. "I'll be damned, Roarke. You're embarassed." "

Lucu deh, soalnya Roarke ternyata bisa merasa malu juga :D







LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...