Friday, April 26, 2013

Review : Clockwork Princess (The Infernal Devices #3)

Source : Goodreads

Judul : Clockwork Princess (The Infernal Devices #3)
Author : Cassandra Clare
ISBN : 1442485418 (ISBN13: 9781442485419)
Edisi : English Paperback (Maret 2013) by Simon & Schuster
Genre : Young Adult, Steampunk, Paranormal, Fantasy, Romance, Magic, Angels, Vampire

Clockwork Princess:   
The Infernal Devices will never stop coming.

Tessa Gray should be happy – aren't all brides happy? Yet as she prepares for her wedding, a net shadows begins to tighten around the London Institute. A new demon appears, one linked to Mortmain, the man who plans to use his army of pitiless automatons, the Infernal Devices, to destroy the Shadowhunters. And he needs only one last item to complete his plan: Tessa.

The Shadowhunters are desperate to find Mortmain before he strikes. And Jem and Will, the boys who lay equal claim to Tessa's heart, will do anything to save her. For though Tessa and Jem are now engaged, Will is as much in love with her as ever. But their small group cannot stand alone, and the powerful Consul doubts Mortmain's advance. The Shadowhunters find themselves trapped when Mortmain seizes the medicine that keeps Jem alive; now it is up to Will to risk everything to save the girl he and Jem both love. But Tessa is discovering her own powerful true nature. Can a lone girl, even one who can command the power of angels, face down an entire army?


The Shadowhunters are pushed to the very brink of destruction in the breathtaking conclusion to the Infernal Devices trilogy.

“She leaned forward and caught at his hand, pressing it between her own. The touch was like white fire through his veins. He could not feel her skin only the cloth of her gloves, and yet it did not matter. You kindled me, heap of ashes that I am, into fire. He had wondered once why love was always phrased in terms of burning. The conflagration in his own veins, now, gave the answer.” 

Perasaan yang datang pertama kali saat pada akhirnya aku sampai di bagian Epilog = sedih.

Unbearably sad. Bahkan, aku sampai nangis-nangis segala (sampe dikira temen sekamarku gila).

Tessa Gray dan Jem Carstairs mempersiapkan pernikahan mereka--meskipun dalam hatinya Tessa mencintai Will Herondale sama besarnya dengan Jem. Tessa, meskipun sudah berkomitmen pada Jem, masih sering memikirkan Will. Begitu juga Will, dia nggak ingin melukai Jem, parabatai-nya, tapi perasaannya pada Tessa semakin besar dan semakin nggak terbendung.

Dibalik semua kehebohan di Institut London mengenai nasib keluarga Lightwood dan kedua anaknya--Gabriel dan Gideon--masalah pengangkatan Charlotte sebagai kepala Institut London yang ditentang Inquisitor Wayland, kemudian cerita cinta Gideon dan Sophie Collins, masih ada kecemasan tentang rencana sang Magister, Mortmain, yang berencana melepaskan pasukan automatonnya untuk mengalahkan para Nephilim dan menghancurkan mereka. Dan kesehatan Jem semakin memburuk sedangkan suplai yinfeng di London makin menipis. Ditambah lagi, Tessa diculik oleh Black Sister dan membuat Will harus rela meninggalkan Jem yang sedang sakit untuk menyelamatkan Tessa.

Novel ini bener-bener mengaduk-aduk emosi. Setiap chapternya nggak keduga banget. Sampai sekarang aku nggak bisa memutuskan apakah ketidakterdugaan *duh, kata macem apaan sih ini?* itu bagus atau jelek. Aku pribadi, yang jatuh cinta sama-sama ke Will dan Jem, jalan ceritanya nggak terlalu ngenakin. Sering deh aku nangis karena terlalu emosional. Jujur aja, sekalinya aku sering nangis saat baca sebuah buku, itu waktu aku baca If I Stay-nya Gayle Forman. Dan epilognya, sangat tidak terduga dan mengejutkan. Ada kesan kalau Cassandra berusaha memuaskan kedua team (Will dan Jem) dan hasilnya jadi kurang memuaskan. Kenapa, Cassandra nggak menghentikan novelnya pada saat Tessa menikah? Kenapa harus dilanjutkan ke tahun 2007, ketika akhirnya cerita Clary-Jace-Simon terjadi?

Tessa, dia semakin galau karena dia juga sama cintanya ke Will. Tessa berusaha setia sama Jem, tapi karena Woolsey Scott bilang Tessa beruntung dia punya dua cinta. Pernyataan yang kurasa lumayan menggambarkan perasaan Tessa pada kedua cowok yang merupakan pasangan parabatai, satu jiwa.

A heart divided against itself cannot stand, as they say. You love them both, and it tears you apart.

Aha, ternyata Woolsey salah kutip XD Harusnya house, bukan heart. Diejek deh sama Tessa.

Most people are lucky to have even one great love in their life. You have found two.
Apa yang terjadi pada Jem juga, meskipun udah tahu dia sekarat, tapi teteeep aja mengejutkan dan bikin nangis T-T Yaah, secara aku ngefans Jem lebih dari Will XD Disini, akhirnya kita tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Tessa, dan siapa sebenarnya orangtua Tessa. Dan juga, seenggaknya kita nggak dibikin penasaran sama kelanjutannya karena jelas di buku ini nggak nggantung. Oh, tapi masih ada satu pertanyaan yang lebih baik nggak diungkapkan sekarang *spoiler nih, spoiler* At least, kita nggak terus menerus diseret rasa ingin tahunya kayak di The Mortal Instruments. Sebenernya frustrasi juga karena aku jadi malas baca TMI #5 City of Lost Souls setelah City of Fallen Angels gagal bikin aku terkesan *maaf yaaa, yang cinta mati sama Jace atau Simon ({})* Jangan pukul saya!

Kenapa cuma kasih empat bintang? Yah, karena aku kurang puas aja. Tapi applause buat Cassandra Clare, karena Nephilim versi dia nggak bikin aku mikirin masalah keagamaan yang jujur aja bikin aku nggak nyaman XD Dan BTW nih ya, ratingnya di GR tinggi lho. Sampai detik ini, total average rating-nya 4.63, dengan 23,898 rating dan 5874 review.

Love you, Jem Carstairs. Love you too, Will Herondale *dikeplak Tessa*

Friday, April 19, 2013

Turning Nineteen #3: Heather Wells Series by Meg Cabot


Bulan Maret kemarin, aku nggak sempat bikin Turning Nineteen, dengan penuh penyesalan. Sekarang, karena udah tanggal sembilan belas April, artinya hari ini waktunya treat.
Just FYI, aku baru aja nyelesaiin serial The Infernal Devices, tapi yaah, karena aku udah nyiapin Heather Wells, aku rasa TID ditunda sampai bulan depan.
Meskipun sekarang sebenarnya aku lagi sibuk belajar buat UTS, tapi komitmen tetap komitmen, ya kan? Bulan ini aku pengen membahas serial Heather Wells, serial yang ditulis oleh Meg Cabot dan sampai saat ini ada lima buku, dengan buku kelima direncanakan terbit September tahun ini.

Source from Goodreads

Empat buku yang sudah diterbitkan adalah Size 12 Is Not Fat, Size 14 Is Not Fat Either, Big Boned, dan Size 12 And Ready To Rock. Genre serialnya sih, bisa dibilang suspense-detektif, dengan sentuhan chicklit. Heather Wells adalah mantan bintang pop Amerika, berusia sekitar 28 tahun. Heather Wells pindah dari apartemen pacarnya, frontman boyband Jordan Cartwright, ke rumah brownstone kakak Jordan, Cooper Cartwright, yang seorang detektif swasta (PI). Heather, yang nggak kuliah karena dia sibuk jadi penyanyi, akhirnya kerja di New York College sebagai asisten gedung tinggal para mahasiswa NY College. Heather punya issue dengan berat badannya, dan dia memakai ukuran 12 (di Amerika, ukuran 12 lumayan gede, tapi rata-rata). Sambil berusaha untuk diet menurunkan berat badannya, Heather melakukan pekerjaannya dan juga berusaha untuk mendapatkan ijasah. Kemudian, di gedung tinggal tempat Heather kerja, terjadi kasus-kasus kematian yang pada akhirnya membuat Fischer Hall (gedung tinggalnya) dijuluki Asrama Kematian (Death Dorm). Karena Heather adalah heroine kita, Heather tergerak untuk memecahkan kasus-kasus itu. Dalam perkembangannya, Heather jatuh cinta pada Cooper, dan di buku ketiga mereka berdua akhirnya pacaran.

Serial ini menurutku kocak abis. Untuk genre misteri, seri Heather Wells nggak terkesan 'gelap' atau 'suram'. Heather punya mulut yang pinter, intuitif, bertekad kuat, termasuk tipe setia, dan periang. Cara investigasinya nggak biasa. Kadang malah terkesan kebetulan aja Heather berhasil memecahkan kasusnya. Selain Heather dan Cooper, tokoh-tokoh lainnya juga bukan sekedar dekoratif. Misalnya saja Magda, Pete, Gavin, Sarah. Mereka juga banyak ikut andil dalam membantu Heather--meskipun ya itu tadi, kadang kesannya kebetulan aja. Gaya penceritaannya ringan, penuh humor, kadang serius, tapi tetap nggak terasa rumit dan susah untuk dimengerti. Sisi romantisnya juga nggak hilang. Di sini, Meg Cabot juga membuat tokoh yang nggak biasa. Heather Wells yang punya masalah dengan berat badannya jelas bukan tipe heroine kebanyakan, yang kurus, langsing, cantik, atau bagaimana. Mungkin karena nggak biasa itulah, Heather Wells terkesan spesial buatku.

Meg Cabot memang top deh. Sebagai penulis multi-genre, Meg Cabot bisa dibilang merupakan penulis asing pertama yang bukunya yang kubaca. Mulai dari The Mediator sampai Insatiable, dan aku juga baca beberapa The Princess Diaries tapi belum sampai selesai. Genre dan cerita Meg Cabot begitu bervariasi. The Mediator memiliki tokoh utama seorang mediator--orang yang bisa bicara dengan arwah/hantu. Insatiable memiliki tokoh utama seorang psychic--Meena bisa melihat kapan seseorang itu mati--seorang vampire lord, dan seorang vampire hunter. Meg Cabot juga menulis YA yang ringan-ringan, paranormal dan non-paranormal, bahkan cerita anak. It's always such a pleasure to read Meg Cabot's books.

Rating rata-rata, sampai sekarang masih 4.6 karena di setiap bukunya, aku nggak melihat keanehan atau ketidaknyamanan dalam membaca :) It's a very good series, with addition of blue-eyed-black-haired guy XD *ditabok*

Wednesday, April 17, 2013

Book to Movie : The Host

source here

Ingat The Host?
Sudah pernah baca buku karya Stephenie Meyer yang ini? Keluar setelah Twilight Saga selesai diterbitkan, oleh Gramedia Pustaka Utama, sekitar tahun 2009-an.

Nah, novel ini baru aja dibikin versi major motion picture atau filmnya, rilis tanggal 29 Maret 2013 kemarin. Disutradarai oleh Andrew Niccol, film ini dibintangi oleh Saoirse Ronan, Max Irons, dan Jake Abel. Genrenya science-fiction, sama seperti novelnya. Aku nonton minggu lalu, di Pakuwon City XXI, karena penasaran banget dan sejujurnya udah nunggu-nunggu film ini sejak dimulai isu adaptasi The Host sekitar tahun 2009.




Melanie Stryder (Saoirse Ronan) adalah satu dari sedikit manusia yang bertahan dari invasi para jiwa (Souls) yang menjadikan manusia sebagai Host atau inang mereka. Ketika Melanie ditangkap oleh Seeker (Diane Kruger), Melanie disisipi jiwa yang menyebut dirinya sendiri Wanderer (Pengelana). Seeker memaksa Wanderer untuk menggunakan ingatan Melanie demi menangkap pemberontak manusia lainnya, tapi Melanie melawan balik dan membuat Wanderer mulai 'merasa' pada Jared Howe (Max Irons) dan adik Melanie, Jamie Stryder (Chandler Canterbury). Melanie mengarahkan Wanderer ke daerah gurun di Arizona, tempat dimana akhirnya mereka bertemu paman Melanie, Jeb Stryder (William Hurt), dan juga Jared serta Jamie. Sementara itu, Seeker terus berusaha melacak Melanie/Wanderer, bahkan rela melakukan apapun agar mereka bisa tertangkap. Di koloni tempat mereka sekarang tinggal, jiwa Wanderer jatuh cinta pada Ian O'Shea (Jake Abel).

Kalo aku sendiri sih, film ini dapet rating 7/10. Yang aku suka dari film ini terutama animasi dan kegigihan si sutradara untuk menampilkan adegan di buku sebanyak mungkin. Penggambaran Jiwa (Souls) di film ini menarik, trus setting lokasi koloni di padang gurun Arizona. Bagus deh, hampir mirip sama penggambaran di buku. 

Aku bukan kritikus film atau ngaku-ngaku pinter tentang film, jadi ya, ini bicara jujur aja. Aku nggak terlalu suka sama pilihan mereka yang menggunakan Saoirse Ronan sebagai Melanie dan Jake Abel sebagai Ian. Kenapa? Yah, kurasa Saoirse Ronan emang cantik, tapi dia nggak terlalu ada unsur tangguhnya. Setiap kali ngeliat Ronan aku kebayang-bayang Susie Salmon (The Lovely Bones). Awalnya aku kepikir Odette Yustman atau siapa gitu XD. Tapi pada akhirnya dia bisa sih memerankan Melanie Stryder. Jake Abel sendiri juga sebenarnya bagus mainnya, tapi juga nggak 'memenuhi' fantasiku tentang seorang Ian O'Shea. Dan kukira Jamie nggak sekecil itu (?!?!). Kalau Max Irons sebagai Jared sih, nggak papa lah. Apalagi dia juga mainnya di Red Riding Hood (2011) lumayan keren. Tampangnya juga oke *swoon* Emily Browning yang memerankan Petals Open to The Moon atau Pet, tubuh baru Wanderer, juga cantik, jadi pas sama penggambaran di buku. Dan yang paling berkesan buatku cuma mata Wanderer doang. Hmm, bisa gak ya aku ganti pake lens warna perak gitu?

Secara keseluruhan? Kurang menggigit mungkin. Kurang berkesan. Setelah habis filmnya, respon pertamaku "Lho? Udah? Segitu doang? Kok pendek banget?". The Host memang salah satu buku paling tebal setelah The Lost Symbol dan The Da Vinci Code yang kubaca, dan terdiri dari 50 chapter lebih. Emang susah mengadaptasi buku setebal itu menjadi satu film berdurasi kurang lebih 120 menit. Jadinya ada beberapa adegan, yang justru penting untuk membangun cerita, malah dihilangkan.

Ada beberapa orang yang bilang kalau bikin film adaptasi dari buku itu susah, karena para fans buku itu mengharapkan banyak dari filmnya. Kadang, emang film itu men-spoil bayangan kita soal bukunya. Contohnya Percy Jackson. Aku nggak keberatan sama karakternya, tapi ceritanya melenceng banget dari plot di buku. Nggak keberatan sama Logan Lerman-nya, tapi sama plotnya. Tapi, kayak The Da Vinci Code atau Angels and Demons? Itu kereeen banget. Warm Bodies kemarin juga bagus dari sisi gambarnya, meskipun ceritanya jadi rada aneh--tapi bisa dimaafkan dengan fakta Nicholas Hoult yang main X) X)

Anyway, The Host lumayan kok, buat yang nggak keberatan dengan film panjang tanpa action yang berkesan. Tapiii, kalau kamu berharap pengen ngeliat banyak action dibumbui dengan cowok-cowok ganteng dan dada six pack, mendingan nonton Olympus Has Fallen, G.I. Joe 2, atau Cloud Atlas deh ya (belum nonton semua, cuma trailernya doang), soalnya namanya juga sci-fi dibalut romantisme. Ciuman mulu deh tiap sepuluh menit :p Not bad, meskipun aku lebih suka kalau pemeran cowoknya diganti XD Hei, tapi tau apa sih aku soal dunia perfilman?!

Source here

Saturday, April 13, 2013

BBI 2nd Anniversary : Happy Birthday Bebi!!

Happy Birthday, Bebi!!

Hari ini, 13 April 2013, Blogger Buku Indonesia resmi berusia dua tahun. Itu berarti sudah dua tahun BBI berkecimpung di dunia komunitas perbukuan dan menjadi rumah bagi blogger-blogger buku gila (seperti saya) yang doyannya tiap hari pegang-dan-baca buku *ditabokin blogger lain yang ngerasa gak gila*

Untuk merayakannya, Divisi Event BBI mengadakan 3 acara yaitu Giveaway Hop (host utama Kumpulan Sinopsis Buku), Close Up Interview (Mia Membaca), dan satunya lagi BBI Berbagi Buku Itu Indah (Book In The Bonnet) . Giveaway Hop berarti beberapa member BBI ngadain giveaway khusus, dan seperti judulnya, dari satu blog yang mengadakan Giveaway Hop, kita bisa lompat ke giveaway yang lain. Seru. Dan karena keterbatasan finansial dan nggak ada novel yang pengen aku kasihin ke orang lain, aku nggak berani ikut jadi Host, tapi jadi peserta *impish smile* Mudah-mudahan tahun depan bisa ngadain GA. Lalu Close Up Interview memberi kesempatan para member BBI untuk saling mengenal dengan mengadakan wawancara. Di BBI Berbagi Buku Itu Indah, BBI ngajak kita untuk mendonasikan buku dan didistribusikan ke tempat-tempat yang membutuhkan.

Aku pertama kenal BBI, kayaknya waktu aku main ke blog Mbak Ren. Pertengahan tahun 2011 aku mulai coba-coba ngeblog karena pengaruh temen yang udah lama punya blog. Akhirnya punya blog pertama, ridyanandaworld, dan isinya macem-macem. Kemudian kenallah aku sama Mbak Ren di Goodreads dan main ke blognya. Meskipun agak nggak percaya karena blogger Indonesia punya komunitas sendiri, aku ngeganti blogku jadi blog buku dan dengan judul baru, The Bookaddict Diaries, biar bisa gabung di BBI.

Di BBI, aku juga jadi sadar ternyata aku nggak gila, seperti tuduhan teman-teman SMA yang ngeliat kebiasaanku baca buku. Dalam hati aku mikir, Nah, kan. Ada lho kumpulan orang-orang yang hobi bacanya lebih hardcore daripada aku. Itu membuatku nggak merasa sendirian, and it feels great.

Jujur aja aku nggak terlalu rajin main di BBI atau Blog karena aku payah dalam manajemen waktu. Apalagi semenjak masuk kuliah dan menyadari memahami Kalkulus lebih gila dibandingkan Angels and Demons dan baca buku Fisika Giancoli lebih berat daripada baca The Host. Needless to say, I'm scrambling. Tapi tetap saja, BBI berarti 'oasis' buat aku, tempat aku bisa bebas stalking blog-blog buku tanpa dianggap stalker, membaca dan ada temannya, dan juga ikutan event-event menarik yang diadakan BBI (misalnya aja Secret Santa kemarin, dan aku berharap tahun ini ada lagi XD)

Selamat Ulang Tahun, Bebi sayaang. Happy Birthday. Herzlichen Gluckwunsch zum Geburtstag. Joyeux anniversaire. Buon compleanno. La breithe shona duit (karena lagi ngefans sama Roarke XD). Dan dengan bermacam-macam bahasa lainnya di seluruh dunia. Semoga di tahun ketiga BBI nanti Bebi semakin rame, semakin heboh, semakin keren, semakin manis, dan lain sebagainya :D Semoga BBI bisa menjadi wadah bagi para pecinta buku dan juga blogger untuk melampiaskan hobi mereka (termasuk aku juga). Semoga anggota BBI makin banyak, dan BBI bisa menjadi pilar untuk membangun generasi Indonesia yang gemar baca buku. Dan juga, ehem, semoga BBI semakin banyak ngadain event, termasuk yang nyediain hadiah *selfish wish*

Good hunting :) *buat yang ikut GA*

Thursday, April 04, 2013

March Wrap-Up: Read-a-Long Nora Roberts and J.D. Robb

Halooo :D

Yah, ini postingan pertama setelah sekitar tiga minggu absen posting review dan bahkan melewatkan Turning Nineteen bulan Maret :( Seminggu terakhir aku baru sakit sih, dan jadinya mau buka laptop aja udah capek duluan.

Meskipun blog sempat liburan hampir sebulan, meskipun nggak sebulan penuh, tapi kegiatan baca masih terus lanjut dong. Dan karena sekarang sudah menginjak bulan April, sekarang saatnya mendata buku apa aja yang aku baca selama bulan Maret.

Karena baru daftar Read-A-Long Nora Roberts and J.D. Robb dari blognya Mbak Ren @ Ren's Little Corner, I found a new passion toward Eve Dallas and Roarke. Mungkin belum sampai pada tahap obsesif kayak Mbak Ren :) tapi aku lumayan tenggelam pada serial ini. Angka 40 sekian (jumlah bukunya maksudnya) awalnya bikin aku mangap. Tapi ya sudahlah, udah kadung basah, tenggelam aja sekalian ;)


Awalnya aku milih level Clueless: 5-10 buku. Alasannya sederhana: sampai seusia gini, aku belum pernah baca NR atau J.D. Hah -,- Tapi di bulan pertama, saking khusyuknya baca In Death, aku sudah baca sebelas...sebelas! XD Tapi semuanya In Death, dan belum sempat baca NR sama sekali. But the year is still long and it's just my first month :) Dan karena semua In Death yang kubaca versi bahasa Inggris, jadi bisa digabung sama Books in English. Two birds with a stone XD

Dimulai dari Naked in Death (In Death #1), Glory in Death (In Death #2), Immortal in Death (#3), Rapture in Death (In Death #4), Ceremony in Death (In Death #5), Vengeance in Death (In Death #6), Holiday in Death (In Death #7), Midnight in Death (In Death #7.5), Conspiracy in Death (In Death #8), Loyalty in Death (In Death #9), dan Witness in Death (In Death #10). 

Ini berarti sudah seperempat dari seri In Death yang aku baca.

In Death bercerita tentang Eve Dallas, seorang Letnan dari divisi Homicide, NYPSD (New York Police and Security Department), di tahun 2058. Dunia masa depan yang bayangannya nggak terlalu jauh dari perkembangannya saat ini. Di tahun itu, manusia bergantung sepenuhnya pada mesin. Nah, buat seri yang dimulai di pertengahan 90-an, imajinasi J.D. Robb dalam menciptakan dunia masa depan lumayan jelas dan cukup akurat lah :) I love the setting.

Di Naked in Death, Lieutenant Eve Dallas (usia 30 tahun), menyelidiki kematian seorang LC (Licensed Companion, hmm, prostitusi yang teratur gitu deh karena mereka punya sertifikat), dan menemukan koneksi korban dengan Roarke, seorang milyuner Amerika. Mavis Freestone, sahabat Eve, sempat mendeskripsikan Roarke sebagai:

"Not the Roarke! The incredibly wealthy, fabulous to look at, sexily mysterious Roarke who owns approximately twenty-eight percent of the world, and its satellites?" (Chapter 4)
Tentu saja, ketika akhirnya Eve bertatap muka dengan Roarke di pemakaman sang korban, Sharon DeBlass (yang seorang cucu senator dan anak keluarga berpengaruh), Roarke langsung tertarik sama Eve. Dan karena Eve sedang menyelidiki pembunuhan DeBlass dan Roarke menjadi salah satu tersangka dalam kasus itu.

Di Glory in Death, Roarke dan Eve akhirnya menjalin hubungan. Roarke agak mangkel sama Eve karena Eve menolak untuk pindah ke rumahnya Roarke. Hubungan mereka agak strain di pertengahan buku karena Eve masih tidak nyaman dengan hubungan seriusnya dan Roarke. Dan lagi-lagi Roarke menjadi satu-satunya hubungan antara dua kasus pembunuhan wanita-wanita berpengaruh di New York. Oh ya, disini mulai dikenalin Officer Delia Peabody, yang bakalan jadi aide (ajudan) Eve di buku-buku mendatang.

Oh ya, bukan spoiler tapi fakta (dan aku yakin yang sudah baca In Death lebih jauh dari dua buku dan sudah baca minimal blurb buku keempat), Roarke melamar Eve di akhir buku :D

Di Immortal in Death, Mavis dituduh membunuh Pandora, seorang model yang kebetulan mantan pacarnya Leonardo, pacar Mavis saat ini. Eve harus membuktikan Mavis nggak bersalah, dan juga mempersiapkan pernikahannya dengan Roarke. Kemudian, mimpi buruk yang biasanya menghantui Eve bertambah jelas, dan Eve mulai mengingat apa yang selama ini cuma potongan-potongan ingatan--apa yang terjadi di masa kecilnya.

Nah, di buku ini ada physical description Roarke favoritku, and I think this sums it up. Dan juga, Eve sendiri yang mendeskripsikannya ;)

He was entirely too attractive, she thought. Criminally so. The strong face, poet's mouth, killer blue eyes. The wizard's mane of thick black hair. If you managed to get past the face to the body, it was equally attractive. Then you added that faint wisp of Ireland in the voice, and well, you had one hell of a package.
Rapture in Death. Kayaknya kasus selalu mengikuti Eve. Bahkan saat minggu terakhir bulan madu Eve dan Roarke di Olympus Resort, kawasan liburan di luar planet. Kemudian, ketika kembali ke Bumi, Eve menghadapi kasus yang sama (seperti bunuh diri tapi dipengaruhi/dipicu oleh sesuatu).

Pada Ceremony in Death, Eve dihadapkan pada kasus kematian seorang polisi yang berhubungan dengan orang-orang yang tampaknya pemuja setan (para pengikut cult). Kemudian cucu polisi tersebut juga meninggal, ada mayat pria anggota cult yang ditinggalkan di depan gerbang rumah Roarke. Dan karena Eve tidak benar-benar menceritakan segalanya pada Feeney (karena Feeney teman polisi yang meninggal itu), Feeney jadi marahan sama Eve.

Di Vengeance in Death, Eve jadi tahu Roarke pernah membunuh orang-orang yang membunuh Marlena, putri Summerset (kalau di buku sih namanya majordomo. Kalau di versi Indonesia, apa ya?). Membalas dendam atas kematian Marlena. Kemudian ada yang mulai membunuhi teman-teman Roarke yang dikenalnya sejak Roarke masih di Irlandia--bahkan sampai membunuh wanita yang sempat dicintai Roarke sebelum Roarke bertemu Eve. Agak brutal dan menyedihkan sih, bukunya.

Holiday in Death. Natal pertama Eve dan Roarke sebagai pasangan suami istri. Haha, bukan berarti mereka bakalan menghabiskan Natal dengan tenang. Pembunuh berantai berkostum Santa membuat Eve sibuk, ditengah kebingungannya mencarikan kado Natal untuk Roarke. Dan hubungan atasan-ajudan Eve dan Peabody semakin mengarah ke pertemanan yang cukup dalam. Peabody is very sweet, kebalikannya Eve, dan mereka semakin bisa bekerja in tandem.

Midnight in Death. Bagian dari antologi Silent Night. David Palmer, seorang pembunuh yang pernah ditangkap Eve, kabur dari penjara dan mulai membunuhi orang-orang yang terlibat dalam persidangannya. Dan Palmer mengincar Eve.

Di Conspiracy in Death, seorang officer yang seangkatan dengan Eve di Akademi membuat masalah. IAB, penyidik internal kepolisian, menuduh Eve terlibat dalam kematian officer itu, dan membuat Eve harus merelakan lencana dan senjatanya. Sementara itu, meskipun dia tidak bisa menggunakan statusnya sebagai polisi, Eve tetap menyelidiki kematian beberapa orang dengan organ tubuh menghilang.

Di Loyalty in Death, sebuah grup bernama Cassandra menanam bom di beberapa tempat di New York. Eve harus mengejar waktu untuk menghentikan bom-bom itu. Sementara itu, adik Peabody, Zeke, tanpa sengaja membunuh seorang pria yang mengasari istrinya (dan kebetulan juga Zeke jatuh cinta pada pada si istri).

Eve dan Roarke lagi nonton pertunjukan live di Witness in Death saat pemeran utama pertunjukan itu terbunuh. Di buku ini, hubungan Peabody dan McNab, detektif dari EDD (Electronic Detectives Division) berkembang menjadi hubungan romantis.

Full review to come...sebentar lagi, karena minggu depan mau UTS *teriak horor*

Banyak tokoh yang sempat maupun belum sempat kusebutkan, dan memegang peranan penting di sepanjang seri ini, seperti Dr. Charlotte Mira, Commander Jack Whitney, Captain Ryan Feeney, Detective Ian McNab, Lieutenant Don Webster, dsb. Tapi karena full review belum bikin, aku janji deh numpahin detail lebih banyak di review-review berikutnya XD

Ciao!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...