Thursday, May 24, 2012

Eden's Root (Eden's Root Trilogy #1)


Judul : Eden's Root (Eden's Root Trilogy #1)
Author : Rachel E. Fisher
Edisi : English, MOBI (2011)

The year is 2033 and the world hovers on the edge of explosion as unexplained crop deaths lead to severe global food shortages. In the United States, the Sickness is taking lives slowly, creeping its way into every family. Fi Kelly has already faced the Sickness in her own family, toughening her beyond her years. But a shocking confession from her dying father will push her toughness to its absolute limits. Saddled with an impossible secret and the mission of saving her little sister, Fi sets out to transform herself into the warrior that she must become to survive the coming collapse. Along the way, she will discover that evil can be accidental and that love can be intentional.-Goodreads

Buat yang bisa menebak, ini bisa dibilang buku dystopian, dan seremnya, setingan tahunnya itu lho.

2033

Pada saat itu, tanaman-tanaman di seluruh dunia mulai mati perlahan-lahan karena proyek rahasia pemerintah yang gagal. Asal mulanya sih dari Amerika. Saat itu, seluruh dunia mulai diserang kelaparan, dan di Amerika sendiri, Sickness--atau bisa dibilang Penyakit--mulai menyebar luas. Orang-orang harus bertahan hidup dengan makanan seadanya dan Penyakit yang membuat kesempatan mereka bertahan hidup jadi kecil sekali.

Fi Kelly sudah kehilangan ayah dan adiknya karena Penyakit--yang kayaknya serupa dengan kanker. Dia harus membawa ibu dan adiknya ke Eden, sebuah tempat dimana setidaknya mereka punya kesempatan hidup yang lebih tinggi. Fi juga membawa keluarga Sean, sahabatnya, dan juga menjadi Leader untuk koloni kecilnya. Dia memimpin jalan ke Eden, dan akhirnya ketemu sama Asher. Sebenarnya Sean dan Asher jatuh cinta sama Fi, dan meskipun kebingungan, priorotas Fi sendiri adalah menemukan Eden dan hidup tenang.

Buku ini, versi MOBI, dikasih sama Miss Rachel Fisher sendiri karena aku penasaran dan naruh bukunya di rak to-read di Goodreads. Jadi, dengan balasan berupa review yang jujur, aku mendapatkan buku ini, hehe. Gratis. Sebenernya aku agak skeptis juga ya, habisnya ada sekitar 800 halaman dalam MOBI. Yah, akhirnya aku baca dengan langkah siput alias pelan-pelan. Kata orang Jawa, alon-alon asal kelakon. Bener aja, sampe seminggu, padahal aku nggak nyambi baca apa-apa. Bukunya bagus, penuh pelajaran berharga, dan juga penceritaannya meskipun agak kaku dan kadang nggak terasa tepat, tapi it was fine. Memang juga kesannya dystopian sekali. Aku setuju buat naruh buku ini di rak dystopian karena mau dibilang fantasi juga nggak.

Masalahnya ada, konflik utama buku ini sedikit terlalu 'realistis'. Mungkin sekali di tahun 2030-an, akhirnya ada sekelompok ilmuwan yang sok bermain menjadi Tuhan tapi malah membuat seluruh dunia sekarat. Karena tahunnya agak terlalu dekat itulah, yang bener-bener bikin bulu kudukku berdiri. Maksudku, aku sering baca buku berseting masa depan yang juga ada tahun konkritnya. Psy-Changeling dari Nalini Singh misalnya--tahun 2070-an. Tapi karena masih jauh banget setingan tahunnya, aku jadi nggak ngerasa aneh. Tapi karena Eden's Root agak terlalu dekat, jadinya ya aku ngeri sendiri. Bayangkan saja, Amerika Serikat aja sampai kesusahan banget. Apalagi Indonesia! Dan saat itu usiaku baru bakalan 39 tahun. Wuih, serem juga.

Aku juga merasakan sedikit kesamaan dengan The Host-nya Stephenie Meyer. Misalnya saja, umat manusia di ambang kehancuran, dan manusia yang tersisa akhirnya harus membentuk koloni-koloni kecil untuk menyelamatkan hidupnya. Perbedaannya adalah, di The Host, musuh umat manusia adalah Jiwa dari planet lain dan bisa dibilang invasi planet lain. Sci-fi sekali. Tapi di Eden's Root, yang menyebabkan kehancuran itu adalah manusia-nya sendiri. Para ilmuwan yang sok 'Playing God' dan mengutak-atik gen tumbuhan, membuat tumbuhan-tumbuhan itu malah jadi rusak. Sebel juga sih, soalnya dari semua penyebab Apocalypse atau kiamat, penyebab yang satu ini kelihatannya yang paling kerasa nyata.

Secara keseluruhan, kita diberi pelajaran bahwa ternyata kiamat bisa datang karena kesalahan manusia juga. Buku ini bener-bener lumayan, tapi kalau yang nggak suka tipe bacaan panjang, rasanya nggak asyik lho.

Rating
4 Out of 5



Tuesday, May 15, 2012

Fifty Shades of Grey (Fifty Shades #1)


Judul : Fifty Shades of Grey (Fifty Shades #1)
Author : E.L. James
Edisi : English, Paperback (2010)

When literature student Anastasia Steele is drafted to interview the successful young entrepreneur Christian Grey for her campus magazine, she finds him attractive, enigmatic and intimidating. Convinced their meeting went badly, she tries to put Grey out of her mind - until he happens to turn up at the out-of-town hardware store where she works part-time.

The unworldly, innocent Ana is shocked to realize she wants this man, and when he warns her to keep her distance it only makes her more desperate to get close to him. Unable to resist Ana’s quiet beauty, wit, and independent spirit, Grey admits he wants her - but on his own terms.

Shocked yet thrilled by Grey's singular erotic tastes, Ana hesitates. For all the trappings of success – his multinational businesses, his vast wealth, his loving adoptive family – Grey is a man tormented by demons and consumed by the need to control. When the couple embarks on a passionate, physical and daring affair, Ana learns more about her own dark desires, as well as the Christian Grey hidden away from public scrutiny.

Can their relationship transcend physical passion? Will Ana find it in herself to submit to the self-indulgent Master? And if she does, will she still love what she finds?

Erotic, amusing, and deeply moving, the Fifty Shades Trilogy is a tale that will obsess you, possess you, and stay with you forever.
-Goodreads

Ada yang bilang kalo buku ini tentang BDSM (buat yang nggak tau tolong search aja di Google karena aku sendiri bingung mau ngejelasin gimana). Memang, di beberapa bagian, ada yang bener-bener berbau BDSM, ada juga yang biasa dan standar (maksudnya adegan seksnya). Aku nggak nyangkal kalo Fifty Shades of Grey ini banyak adegan seks *sighs*

Anastasia Steele adalah seorang gadis muda yang bisa dibilang polos, naif, dan seringkali meragukan diri sendiri. Usianya masih 22 tahun. Ketika temannya, Katherine Kavanagh, meminta Ana untuk mewawancarai Christian Grey, Ana terpaksa setuju. Christian Grey adalah salah satu pengusaha muda terkenal di Amerika, dan membayangkan harus mewawancarai Christian Grey membuat Ana keder. Meskipun begitu, akhirnya Ana berangkat juga ke kantor Grey di Seattle. Ana hanya nggak menyangka kalau Christian Grey adalah pria 27 tahun yang tampan, seksi, dan berhasil mengacaukan pikiran Ana.

Christian sendiri nggak menyangka dia tertarik sama Anastasia Steele. Menurutnya Anastasia itu menarik, cantik, dan kepolosannya membuat Christian nggak berdaya. Apalagi, masa lalu Christian bisa dibilang kacau sekali dan dia nggak ngerti bagaimana memperlakukan wanita dengan baik karena Christian tahunya menjadikan wanita-wanita itu seorang Sub (maaf, detailnya silakan dicari sendiri di Google. Rasanya nggak pantes aja diterangin di sini). Jadi, Christian menawari Anastasia menjadi Sub-nya, meskipun Anastasia menginginkan lebih dari Christian.

Pendek kata, buku ini menarik. Karena meskipun mengusung tema BDSM, ternyata adegan yang BDSM-ish nggak banyak. Di buku ini lebih diceritakan mengenai isu-isu dan masalah probadi Christian juga Anastasia. Kemudian bagaimana mereka berusaha mengatasinya karena mereka saling mencintai. Christian, seperti yang dibilangnya sendiri, adalah pria dengan masalah yang begitu rumit. Masa lalunya membuat Christian nggak pernah bisa memandang dirinya sendiri berharga. Padahal tuh, meskipun dia seorang control freak sampai ke tulangnya, Christian bisa jadi sweet banget kalo emang mau. Duuuh. Aku suka ngeliat cara Christian dan Ana berinteraksi, kecerewetan Christian, dan bagaimana Anastasia berusaha mengatasi pria yang merupakan 'fifty shades of fuckedupness'.

Christian digambarkan sebagai seorang pria yang bersembunyi di balik topeng kesuksesan dan kejayaannya di bidang bisnis. Meskipun keluarga angkatnya baik hati dan sempurna, tapi Christian merasa nggak pantes menerima 'kesempurnaan' kedua orangtua angkatnya karena masa lalunya. Anastasia, meskipun dia kelihatan rapuh, tapi dia bisa menembus topeng Christian Grey. Anastasia juga punya isu-isunya sendiri, meskipun semuanya berakar dari perasaan ketidakpantasan alias ngerasa kurang PD. Bukunya sendiri cuma berkisar pada kedua tokoh utama yang berusaha mempertahankan hubungan mereka yang agak bikin bingung. Memang ya, kurasa harus baca buku keduanya.

Di Goodreads sendiri, Fifty Shades Trilogy dapet rata-rata review yang bagus. Aku sendiri ngasih tiga bintang karena aku sebel sama Christian, kasihan sama Anastasia, dan karena ini buku BDSM pertama yang kubaca, jadinya di hati agak gimanaaaa gitu. Mungkin di buku keduanya, Fifty Shades Freed, aku bakalan ngasih rating lebih tinggi.

Rating
3 Out Of 5



Sunday, May 13, 2012

Random Things - 10 Top Playlist Buat Menulis



Kalau mau baca buku, tentunya lebih enak nggak diganggu suara-suara ya... Tapi beda sama menulis. Kalau aku menulis novel, aku nggak lupa menyalakan iTunes atau Music Player di HP. Kadang, lagu yang tepat bisa membangkitkan mood menulis, apalagi kalau misalnya lagunya cocok dengan suasana dan settingan novel yang lagi ditulis.

Sebenernya, selera musikku bisa dibilang 'ekletik', hehe :D
Aku nggak menyukai jenis musik tertentu, atau membenci satu jenis musik. Biasanya, aku agak anti sama metal atau tipe yang penyanyinya cuma jejeritan di mikrofon nggak jelas. Aku suka sama jazz, pop, po-alternatif, rock, pokoknya yang masih bisa dikategorikan sebagai 'bisa didengarkan'. Kadang, kalau emang lagi mood, aku juga suka banget sama lagu-lagu klasik seperti Bach, Beethoven, Debussy, dan Chopin (piano semua ya?)

Inilah Top 10 lagu-lagu yang termasuk dalam Playlist-ku 'Writing Materials' di iTunes. Maaf ya, kalau nama Playlist-nya agak norak (_ _) Dipilih secara acak pake mode shuffle karena meskipun lagu-lagu di playlist ini aku pilih secara selektif banget, tapi tetep aja banyak dan bikin aku bingung :)

1. Monster - Paramore
Musiknya sih bisa dibilang biasa, karena setelah ditinggal Farro bersaudara, musiknya jadi kurang greget. Tapi masih lumayan enak :)

2. Trouble Sleeping - The Perishers
Lagunya tentang seseorang yang nggak bisa tidur, bukan karena jatuh cinta. Sebaliknya. Dia malah nggak bisa tidur karena tokoh 'you' itu mengganggunya :) Temponya juga slow, sweet banget. The Perishers itu band asal Denmark (sudah kubilang kan, seleraku ekletik)

3. Bushes - Hot Chelle Rae
Salah satu lagu favoritku dari HCR. Musiknya enak, bersemangat. Dan yang biasanya bikin aku ngiler adalah suara Ryan Follese yang seolah 'menyihir'ku

4. It's Not Over - Daughtry
Hmp. Daughtry. Jangan salah, aku punya albumnya lengkap. Dan It's Not Over memang bukan salah satu lagu favoritku karena agak-agak menyedihkan dan depressing. Sebenarnya aku lebih suka Call Your Name atau Life After You

5. Whatever It Takes - Lifehouse
Kepasrahan si tokoh 'aku' karena dia merasa udah mengecewakan tokoh 'kau'. Lagunya so sweet banget.

6. Dancing - Elisa
Musiknya enak banget, slow, tapi tetap gereget. Liriknya juga puitis banget

7. What Makes You Beautiful - One Direction
Boyband Amerika, dan liriknya juga bagus. Musiknya bikin semangat :)

8. Breakeven - The Script
Nggak ada komen. Aku cuma suka aja sama lagunya, kadang cocok kalau aku lagi nulisin adegan sedih atau perpisahan.

9. We Found Love - Boyce Avenue cover version
Aku lebih suka versi cover dibandingkan versi Rihanna-nya. Musiknya lebih ringan dan enak didengar.

10. Payphone - Maroon 5 featuring Wiz Khalifa
Suara uniknya Adam Levine bikin aku ngerasa enak dan enjoy. Meskipun liriknya agak bikin sedih, tapi musiknya nggak slow, jadi bikin semangat.

Tuesday, May 08, 2012

Archangel's Consort (Guild Hunter #3)


Judul : Archangel's Consort (Guild Hunter #3)
Author : Nalini Singh
Edisi : Paperback, English, terbit tahun 2011

Nalini Singh steps back into the shadows of her “heartbreakingly original”* world where angels rule, vampires serve, and the innocent can pay the greatest price of all…

Vampire hunter Elena Deveraux and her lover, the lethally beautiful archangel Raphael, have returned home to New York only to face an uncompromising new evil…

A vampire has attacked a girls’ school—the assault one of sheer, vicious madness—and it is only the first act. Rampant bloodlust takes vampire after vampire, threatening to make the streets run with blood. Then Raphael himself begins to show signs of an uncontrolled rage, as inexplicable storms darken the city skyline and the earth itself shudders.

The omens are suddenly terrifyingly clear.

An ancient and malevolent immortal is rising. The violent winds whisper her name: Caliane. She has returned to reclaim her son, Raphael. Only one thing stands in her way: Elena, the consort who must be destroyed…


Buku ketiga dari serial Guild Hunter...
Dimana para malaikat berkuasa di dunia, dipimpin oleh para Archangel, vampir menjadi pelayan para malaikat. New York City dan daerah sekitarnya dikuasai oleh Raphael, unearthly beautiful, mematikan, dan saat ini menjadi sasaran iri Archangel lainnya karena Raphael mengubah Elena Deveraux, seorang pemburu vampir di organisasi Guild Hunter, menjadi malaikat. Setelah menghadapi Lijuan di Cina, akhirnya mereka kembali ke New York, dan berita mengenai status Elena sebagai malaikat dan juga kekasih Raphael menyebar dengan cepat.

Bukan berarti hidup mereka bakalan tenang, sih. Pembantaian dan pembunuhan oleh vampir terjadi, dan nyaris saja membuat adik-adik Elena menjadi korban. Kemudian Raphael sendiri jadi kehilangan kendali dan gampang marah. Cuaca jadi ngawur. Dan menurut bisik-bisik, itu adalah tanda-tanda kalau seorang malaikat Ancient--Kuno/Purba, terserah mau yang mana :D aku kan baca bahasa Inggris-nya--akan terbangun dari tidur panjangnya. Dan Raphael percaya kalau kali ini, yang terbangun adalah ibunya, Archangel Caliane.

Dari ketiga bukunya, sejauh ini, aku paling suka sama Archangel's Consort. Ceritanya mengalir dengan lancar, penulisannya juga bukan dengan gaya biasa-biasa saja. Di sini, memang jadi distopia, karena malaikat bukan makhluk-makhluk 'dari Tuhan', mereka kuat dan berkuasa, dan yang duduk di puncak rantai makanan adalah para Archangel. Meskipun begitu, di sini nggak disebut-sebut sama sekali mengenai masalah ketuhanan, dan itulah yang membuatku suka dengan buku ini. Tokoh-tokohnya benar-benar berkarakter. Misalnya saja, Elena. Elena punya masalah dengan ayahnya. Dia diusir setelah keluarganya dibantai, membuat Elena, yang memiliki kemampuan berburu vampir sejak lahir (hunter-born) akhirnya bergabung dengan Guild Hunter. Pembantaian ibu dan kakaknya juga terus-terusan membuatnya mimpi buruk.

Kemudian si Raphael sendiri. Dari sekian banyak malaikat-malaikat (maupun keturunannya) yang pernah kubaca, sang Archangel of New York adalah favoritku. Habis, dari segi fisik dia adalah tipeku: berambut hitam, mata biru, dan seksi. Seandainya aku jadi Elena juga, aku rela kok jatuh ke pelukan Raphael. Tapi Raphael terlalu protektif dengan Elena, menurutku sampai ke titik yang bisa bikin Elena frustrasi. Selain itu, ada Dmitri, Illium, Jason, Galen, Aodhan, Naasir, dan Venom, anggota dari Seven atau staf elitnya Raphael. Dilihat dari segi manapun juga, Raphael kayaknya memang satu-satunya Archangel yang punya staf elit karena meskipun dia memimpin dengan tangan besi dan tanpa ampun, tapi Raphael yang paling pengertian.

Nalini Singh. Wow. Selain Meg Cabot--yang kusukai karena genre YA Meg--Nalini memang bisa dibilang sebagai salah satu penulis paranormal romance terbaik. Cara Nalini menggambarkan dunia dimana malaikat memimpin, itu agak diluar dugaan. Chemistry antara para tokohnya tergambar dengan jelas, dan kalau ada bagian mengharukan, hatiku bakalan ikutan sakit dan aku juga bakalan ikut nangis. Buku ini juga salah satu buku yang kuberi rating 5, padahal aku nggak gampang ngasih 5 bintang.

Seru, mengharukan, keren. Hmm, Raphael. Pengen deh, jadi Consort-nya *dreamy sigh*


Rating
5 Out of 5


Oh ya, ada cover lainnya lho. Aku suka sama cover yang di atas, tapi kayaknya cover yang ini favoritku.


Sunday, May 06, 2012

Random Things - My Reading Habits

Nggak tahu apa yang mau aku review alias bingung dengan pilihan buku, jadi aku bikin topik baru: Random Things
Random Things pertama seorang Nina adalah kebiasaan membacaku. Sebenarnya, baru beberapa tahun ini aku mulai getol membaca. Seperti sebagian besar orang, aku memiliki kebiasaan-kebiasaan aneh saat membaca buku-buku favoritku. Perlu diketahui, aku juga baca komik Jepang alias manga lho, meskipun belum sampai ke level otaku atau maniak. Biasa-biasa saja. Ada banyak manga favoritku, kebanyakan sih shoujo alias manga cewek, dan juga Detektif Conan. Umm, itu komik mulai jaman kakak laki-lakiku (yang sekarang umurnya udah 24) masih SD, jadi Conan itu komik pertama yang kubaca ^_^

Aku punya beberapa pola dan kebiasaan, seperti...
1. Meskipun aku selalu belajar sambil mendengarkan musik, aku nggak pernah membaca novel/komik sambil menyalakan iPod.
2. Sering datang ke acara gebyar buku, pesta diskonan, ataupun promo-promo buku. Meskipun lagi bokek sekalipun, aku bakalan ngerayu Mama buat minjemin duit, asalkan aku dapet buku.
3. Nggak pernah pilih-pilih bahan bacaan, apa yang kubaca biasanya bergantung pada minat. Kadang, kalau lagi kepengen, aku suka kok baca Harlequin atau buku-buku historical romance.
4. Meskipun aku suka baca komik, tapi aku nggak punya komik sendiri. Aku selalu datang ke rental buku dan menyewa komik. Malah, kalau komiknya kelamaan terbit, aku milih baca mangascan di mangafox.me.
5. Koleksi buku di lemariku beragam. Mulai dari ensiklopedia sampai buku-buku mengenai motivasi. Malah aku juga punya buku yang judulnya Rahasia Bisnis Orang Cina.
6. Selalu memberi identitas pada novel-novel milikku, menyampulinya dengan rapi, dan memisahkan pembatas buku dengan bukunya biar kalau dipinjam, pembatasnya nggak hilang.
7. Nggak suka makan sambil baca.
8. Nggak suka melipat ujung halaman, pasti nyari pembatas apa aja.
9. Buku-bukuku sebagian sumbangan dari Ayah, yang sejak kecil suka banget sama buku-buku kayak serial  Enid Blyton, Lupus, dan semacamnya :D
10. Kadang lebih suka baca buku bahasa Inggris versi aslinya, bukan terjemahannya. Tergantung duit juga sih, dan juga kemurahan hati ayahku.
11. Lebih suka baca buku versi eBook di laptop karena bisa ditulisin (diberi note), itu memudahkanku buat bikin reviewnya.
12. Posesif sama buku-bukuku, nggak akan kupinjamkan kalau aku nggak percaya banget sama si peminjam.
13. Saat ini, jumlah bukuku lebih dari 200 judul, termasuk buku paperback, hardback, dan eBook.

Friday, May 04, 2012

Size 12 Is Not Fat (Heather Wells Mysteries #1)


Judul : Size 12 Is Not Fat (Heather Wells Mysteries #1)
Author : Meg Cabot
Edisi : Paperback - English
ISBN : 0060525118 (ISBN13: 9780060525118)
Penerbit : Avon Books (2005)
Jumlah Halaman : 345

Heather Wells Rocks!

Or, at least, she
did. That was before she left the pop-idol life behind after she gained a dress size or two — and lost a boyfriend, a recording contract, and her life savings (when Mom took the money and ran off to Argentina). Now that the glamour and glory days of endless mall appearances are in the past, Heather's perfectly happy with her new size 12 shape (the average for the American woman!) and her new job as an assistant dorm director at one of New York's top colleges. That is, until the dead body of a female student from Heather's residence hall is discovered at the bottom of an elevator shaft.

The cops and the college president are ready to chalk the death off as an accident, the result of reckless youthful mischief. But Heather
knows teenage girls . . . and girls do not elevator surf. Yet no one wants to listen — not the police, her colleagues, or the P.I. who owns the brownstone where she lives — even when more students start turning up dead in equally ordinary and subtly sinister ways. So Heather makes the decision to take on yet another new career: as spunky girl detective!

But her new job comes with few benefits, no cheering crowds, and
lots of liabilities, some of them potentially fatal. And nothing ticks off a killer more than a portly ex-pop star who's sticking her nose where it doesn't belong . . .-Goodreads

Heather Wells, mantan bintang pop remaja, sudah melewati masa kejayaannya. Kini, ketika usianya sudah dua puluh delapan tahun dan ukuran pakaiannya membengkak, Heather sudah tidak merasakan lagi 'masa kejayaannya'. Malah, dia mengalami kemalangan beruntun. Tunangannya, Jordan Cartwright, seorang penyanyi boyband Easy Street, mendepaknya dan Heather digantikan oleh seorang penyanyi wanita baru yang ukuran badannya jauh lebih kecil darinya. Karir menyanyinya terjun ke toilet. Ibunya kabur membawa seluruh tabungannya ke Argentina. Akhirnya, atas kebaikan hati temannya, Heather mendapatkan apartemen di Village dan pekerjaan sebagai asisten gedung tinggal di New York College. Memang bukan pekerjaan yang bergengsi, tapi Heather tidak peduli.

Cooper Cartwright adalah kambing hitam keluarganya. Dia kakaknya Jordan, tapi Cooper memilih jauh-jauh dari dunia selebriti dan malah membangun karirnya sendiri sebagai detektif swasta (PI). Dia menawarkan tempat tinggal buat Heather di rumah brownstone warisan dari Kakek Cartwright. Cooper, tampan dan juga seksi, tidak menyadari kalau Heather jatuh cinta padanya.

Kemudian di gedung tinggal New York College, gadis-gadis mulai mati. Polisi percaya kalau kematian mereka itu akibat selancar lift, tapi Heather tidak percaya. Dia ngotot kalau gadis-gadis nggak mungkin berselancar lift, dan Heather yakin sepenuhnya kalau gadis-gadis itu dibunuh. Meskipun dia sama sekali nggak berpengalaman dalam pekerjaan detektif, Heather mulai menyelidiki kematian gadis-gadis itu. Semula semuanya adem ayem aja, sampai seseorang berusaha membunuh Heather.

Memang sih, sebagai cerita yang mengusung genre 'misteri' atau detektif-detektifan, sisi thriller-nya kurang. Kurang seru. Tapi, aku lumayan suka Heather yang berusaha menerima kenyataan kalau dia itu gemuk dan dia nggak mungkin bisa ngurusin badannya--karena dia nggak disiplin dalam diet. Heather, karena nggak berpengalaman, malah bikin kesimpulan-kesimpulan sendiri dalam investigasinya, meskipun akhirnya kesimpulan-kesimpulan itu salah besar dan bikin Cooper heran sendiri. Heather juga punya impian lucu mengenai masa depannya dengan Cooper--sebuah kantor detektif swasta dengan tiga anak dan semacamnya--dan Heather juga nggak konsisten alias plinplan. Lucu banget, ngeliat rasa frustasi Heather karena Cooper, dan usaha-usaha dia buat menarik perhatian Cooper ternyata jadi aneh. Tapi Cooper juga kelihatannya peduli sama Heather, lebih dari sekedar kepedulian seorang teman.

Meg Cabot, lagi-lagi, bikin aku puas dengan bukunya. Sebenarnya genre buku ini dewasa, tapi karena Meg Cabot memasukkan unsur-unsur yang kerasa kayak komedi, jadinya buku ini terkesan lucu dibandingkan serius. Mungkin karena Heather sendiri sebenarnya juga cuma berperan sebagai detektif-detektifan. Meskipun begitu, aku ngalamin semacam dejavu saat baca buku ini, perasaan yang sama waktu aku baca seri The Mediator. Yap. Khas cerita seri Meg Cabot, perkembangan kisah cinta karakter utamanya lambat! Aaaaaah! *gigitin bantal* Kenapa rasanya aku pengen banget nendang Cooper, padahal dari segi tokoh dia termasuk tipe favoritku? Hiih, kesel. Aku jadi nggak bisa nebak endingnya: apakah Heather dan Cooper akhirnya jadian, atau malah Heather tertarik sama cowok lain karena dia nggak juga direspon sama Cooper?

Baca Size 12 Is Not Fat nggak membutuhkan kesabaran khusus, kok. Bukunya, meskipun tergolong agak 'tebal' secara fisik, tapi isinya lumayan ringan. Buat penggemar berat Meg Cabot, Heather Wells Mysteries itu termasuk wajib baca. Ringan, menghibur, tapi juga nggak terkesan 'picisan' atau nggak bermutu. Nggak rugi kok, bacanya.
Meskipun edisi yang aku baca ini edisi bahasa Inggris, tapi oleh Gramedia, serial ini udah diterjemahin ke dalam bahasa Indonesia.

Happy reading, and have a nice weekend :)

Bisa didapatkan di Toko Buku Online Bookoopedia.com, Facebook Bookoopedia, atau Twitter @bookoopedia
http://www.bookoopedia.com/us/book/id-0060525118/size-12-is-not-fat-a-heather-wells-mystery-heather-wells-mysteries-paperback.html

Review ini untuk "Lomba Estafet Review Buku" di http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html


Rating
4 Out of 5


Wednesday, May 02, 2012

Avalon High


Judul : Avalon High (SMA Avalon)
Author : Meg Cabot
Edisi : Bahasa Indonesia
ISBN/EAN : 9789792262377 / 9789792262377
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (Oktober 2010)
Tebal : 312 halaman

SMA Avalon sekilas terlihat seperti sekolah biasa, yang mempunyai siswa-siswa biasa: Ada Lance, si atlet. Jennifer, si cheerleader. Dan Will, si presiden kelas senior, gelandang, dan si cowok teladan.

Tapi tidak semua orang di SMA Avalon terlihat seperti aslinya... bahkan juga Elle. Sebagai siswa pindahan baru Ellie akan menemukan jati dirinya. Peran apa yang akan dia mainkan dalam drama yang sedang berlangsung di SMA Avalon? Bagaimana jika rangkaian kejadian dan kebetulan aneh yang dialaminya berarti---seperti yang dialami para kesatria Raja Arthur---akan terjadi tragedi yang menimpa SMA Avalon?

Dan yang paling buruk, bagaimana jika Ellie tidak berdaya untuk mencegah tragedi itu?
-Goodreads

Legenda Arthurian. Jarang-jarang baca buku model begini. Waktu 'nemu' di Gramedia Royal Plaza Surabaya *ini sekalian promosi juga* aku langsung terpikat sama kovernya (seorang ksatria berlutut di depan seorang putri dengan latar belakang kastil jaman pertengahan) dan warna ungunya itu lho. Terkesan keren banget. Apalagi pengarangnya Meg Cabot. Meg Cabot! *histeris* Aku kan penggemar berat Meg Cabot, jadi ya, wajib gitu punya bukunya. Butuh waktu dua hari aja, sodara-sodara, buat ngehabisin buku ini. Kalau nggak salah waktu itu lagi liburan hari kecepit (Jumat libur, Sabtu sekolah, Minggu libur lagi) dan kayaknya hari Sabtu aku juga bolos *watados*

Ellie Harrison pindah dari Minnesota ke Maryland mengikuti kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai profesor di bidang abad pertengahan atau bisa juga dipanggil Medievalist. Di Annapolis, kota barunya, Ellie masuk ke SMA Avalon. Ellie ketemu Will Wagner, secara nggak sengaja, ketika dia lagi lari di taman. Ketika pertama kali ketemu, Ellie udah ngerasa seolah-olah dia dan Will pernah bertemu--entah dimana.

Hari pertama sekolah, Ellie ketemu lagi sama Will, kali ini dia juga akhirnya ketemu Lance Reynolds, sahabat Will, dan Jennifer Gold, pacar Will. Will adalah quarterback tim football sekolah, Lance sebagai guard, dan Jennifer anggota cheerleaders. Well, memang agak tipikal sih ya. Tapi Ellie merasa seolah-olah dia dan Will memang udah akrab sejak dulu. Mereka bisa langsung berteman lumayan dekat. Ketika menghadiri pesta kolam renang di rumah Will, Ellie ketemu sama Marco, kakak tiri Will yang nakutin. Sementara guru Ellie, Mr. Morton, orangnya aneh juga. Beliau berkeras memasangkan Ellie dengan Lance, agar hubungan Will dan Jennifer bisa tetap langgeng.

Turns out, ternyata Mr. Morton percaya kalau kejadian di masa Raja Arthur bakalan terulang lagi. Di SMA Avalon. Mr. Morton percaya kalau Will Wagner itu reinkarnasi dari Raja Arthur, Lance reinkarnasi Lancelot, Jennifer reinkarnasi Guinevere. Guess what, Ellie dipercaya sebagai reinkarnasi Elaine of Astolat, Lady of Shalott. Buat yang nggak tau Lady of Shalott, dia adalah wanita yang dikutuk supaya nggak melihat ke luar jendela kamarnya. Lady of Shalott masih bagian dari kisah Camelot, lho, dan juga ada puisi Lady of Shalott yang ditulis oleh Tennyson. Dia jatuh cinta sama Lancelot, tapi akhirnya mati karena kutukannya itu. Karena cerita Lady of Shalott menyedihkan banget, Ellie nggak terima dibilang reinkarnasi Lady of Shalott.

Ketakutan Mr. Morton menjadi kenyataan. Dan meskipun Mr. Morton bilang Ellie nggak akan bisa membantu mengubah keadaan, Ellie nggak peduli. Apalagi dia mencintai Will sepenuh hatinya, dan dia kepengen banget menolong Will agar tragedi yang terjadi di Camelot ratusan tahun yang lalu itu nggak terulang lagi.

Sebenarnya dari segi romansanya, biasa-biasa saja. Will juga kelihatannya tertarik sama Ellie, dan dia bilang dia lebih suka ngobrol dengan Ellie. Yang membuat buku ini menarik adalah gaya penceritaan Meg Cabot, yang seperti biasa, blak-blakan dan menghibur, penuh humor, dan khas remaja. Meg Cabot menceritakan Avalon High dari sudut pandang Ellie. Meg juga nggak membuat Ellie seorang damsel in distress, tipe jagoan cewek yang benar-benar 'malang' dan butuh diselamatkan oleh si cowok. Kenyataannya, justru Ellie yang akan menyelamatkan Will. Ellie tipe yang cerdas, nggak macem-macem, dan meskipun dia tipikal jagoan cewek buatan Meg Cabot, tapi karakternya menarik dan nggak membosankan. Will Wagner, dia adalah gambaran cowok populer SMA lainnya, hanya saja dia berwawasan luas, pandai bicara, dan pintar. Dia tipe pemimpin. Intinya, tokoh-tokoh Avalon High, meskipun secara fisik mereka semua merupakan tipikal khas remaja SMA Amerika, tapi sifat-sifat nggak terduga mereka justru bikin ceritanya menarik.

Meg Cabot, seperti biasa, berhasil menawan hatiku. Selama ini, aku belum pernah kecewa dengan cerita-cerita Meg. Aku terus saja kagum dengan kemampuan beliau membuat tema yang sederhana dan biasa menjadi sebuah cerita yang menarik. Misalnya saja, Mediator Series yang bercerita tentang seorang gadis yang bisa melihat hantu, atau yang sekarang lagi kusukai, Abandon, seorang cewek yang selamat dari kematian tapi dikejar-kejar Hades, terinspirasi dari cerita Persephone dan Hades. Tema yang 'umum' dibuat oleh pengarang-pengarang lain dibuat menjadi 'nggak biasa' dan keren. Avalon High juga begitu. Kisah Arthurian. Siapa yang menyangka? Nggak rugi baca Avalon High.

Oh, ya, Avalon High dibuat film oleh Disney sekitar tahun 2010, meskipun plotnya jadi beda banget. Yah, aku kecewa sama filmnya. Tapi bukunya nggak akan membuatmu kecewa. Dan buat yang suka dengan happy ending (siapa yang nggak suka? Aku aja kalau endingnya jelek nggak bakalan kubaca lagi), Avalon High juga bakalan bikin kamu senang. Sekedar pemberitahuan juga, Avalon High dibuat graphic novel, meskipun belum (atau nggak) diterbitkan di Indonesia.

Selamat membaca! :)
Avalon High bisa dibeli juga di Toko Buku Online Bookoopedia.com, Facebook Bookoopedia, atau Twitter @bookoopedia
http://www.bookoopedia.com/id/book/id-33384/avalon-high-sma-avalon.html


Rating
4 Out of 5


Review ini untuk "Lomba Estafet Review Buku" di http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Tuesday, May 01, 2012

Raphael (Vampires in America #1)


Judul : Raphael (Vampires in America #1)
Author : D.B. Reynolds
Edisi : eBook, bahasa Inggris (terbit tahun 2009)

Malibu, California-home to rock-and-roll gods and movie stars, the beautiful, the rich . . . and vampires.

Powerful and charismatic, Raphael is a Vampire Lord, one of the few who hold the power of life and death over every vampire in existence. Thousands call him Master and have pledged absolute loyalty on their very lives. But when, in a brazen and deadly daylight attack, a gang of human killers kidnaps the one female vampire he'd give his life for, Raphael turns to a human investigator to find his enemies before it's too late.

Cynthia Leighton is smart, tough and sexy, a private investigator and former cop who's tired of spying on cheating spouses and digging out old bank accounts. When Raphael asks for her help in tracking down the kidnappers, Cyn's happy to accept. But she soon realizes her greatest danger comes not from the humans, but from Raphael himself.

Battling Russian mobsters and treacherous vampires, and betrayed by those they trusted, Cyn and Raphael find themselves fighting for their lives while caught up in a passion of blood and violence that is destined to destroy them both.
-Goodreads

Waktu dikasih satu copy buku ini, aku langsung, deuh, vampir lagi. Maaf, tapi kepalaku udah penuh sama hal-hal berbau vampir. Mau kutolak, sungkan. Akhirnya ya aku simpen aja. Bukunya mendekam di laptopku selama sebulan sebelum akhirnya aku mood baca.

Sebenarnya ceritanya tipikal, tapi toh ceweknya nggak segampang itu jatuh cinta sama si vampir cowok, jadi agak menghibur dan fresh gitu. Dan setingnya itu lhoo. Malibu! Aku nggak pernah baca ada vampir yang suka banget sama kota-kota yang tiap tahunnya kena matahari kayak LA. Biasanya juga di daerah-daerah yang dingin, Amerika Serikat bagian utara (ya Chicago, ya New York).

Cynthia Leighton seorang detektif atau private investigator (PI) yang tahu kalau di Malibu ada cukup banyak vampir untuk membuatnya merinding. Dia juga menghindari bekerja dengan vampir. Tapi dia nggak bisa menolak ketika Raphael, seorang Lord di daerah California dan sekitarnya, meminta bantuan Cynthia buat nyari Alexandra, vampir perempuan yang tinggal dengan Raphael. Alexandra diculik oleh orang-orang yang katanya Raphael adalah musuhnya. Cynthia akhirnya mulai bekerja untuk Raphael. Raphael juga, meskipun dia bener-bener agak bebal kepalanya (habis dia nggak sadar-sadar kalau dia jatuh cinta sama Cyn, malah dikiranya dia kepengen 'menguasai' Cyn), jatuh cinta sama Cyn. Cyn, yang nggak tahu siapa itu Alexandra dan mengira Alexandra kekasihnya si Raphael, malah menjauhi Raphael. Udah keliatan Cynthia juga jatuh cinta, masalahnya dia nggak mau kalau cuma dijadikan 'mainan' sama Raphael dan lagipula, sudah ada Alexandra.

Cyn tipe jagoan cewek yang mandiri, kuat, dan independen. Dia kaya raya lho. Pekerjaan sebagai PI itu kayaknya cuma buat ngisi waktu luangnya saja. Raphael tipe vampir cowok banget, apalagi kebetulan dia seorang Lord yang lumayan disegani di seluruh Amerika. Bossy, sok ngatur, tukang perintah, dingin, bebal. Ugh. Sebenernya tipe kayak Raphael itu aku jauhin, tapi waktu aku baca separuh dan mikir 'kasian amat si Raphael' aku mulai merasa simpatik sama dia. Masa lalunya kacau banget. Masa lalunya mengikatnya dengan Alexandra, dan Raphael nggak bisa ninggalin Alexandra sendirian. Dia nggak berencana jatuh cinta sama Cynthia, tapi nasi udah jadi bubur. Dan rasanya aku pengen banget nyekek Raphael ketika dia lebih ngutamain keselamatan Alexandra daripada Cyn.

Ceritanya sih biasa-biasa aja, vampirnya juga standar kok. Udah nggak ada lagi yang bisa bikin aku kaget dengan para vampir, apalagi karena hampir semua model vampir udah pernah dijadikan cerita. Mulai dari vampir yang minum darah hewan (Twilight), vampir yang bisa jalan saat siang hari (banyak banget lho), macem-macem. Jadi, rasanya udah pernah 'nyicipin' semua jenis vampir. Aku juga agak kecewa sama endingnya, yang bikin aku harus minta buku keduanya, Jabril. Heleeeh. Secara keseluruhan, aku suka sama bukunya. Lumayan lah.

Berharap semoga Raphael cepat nyadar kalau dia nggak bisa hidup tanpa Cynthia.
Amin.


Rating
4 Out of 5


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...